KALIMANTAN TENGAH — Kesuksesan OSRS bukan kebetulan belaka. Game yang lahir dari "server 2007 yang ditemukan di laci meja karyawan" ini kini berusia 13 tahun—lebih tua dari usia RuneScape saat versi klasiknya dirilis pada 2013. Angka subscribernya bahkan disebut Charles melebihi total pemain aktif di semua versi RuneScape yang pernah ada.
Dari Server Bekas di Laci Menjadi Fenomena Global
Kisah berdirinya OSRS terdengar seperti legenda urban. Senior Communications Manager Jagex, Danni Amos, membongkar asal-usulnya: "Players actually wanted the 2006 version, but we didn't have a copy of that version of the game. A [Jagex employee] found the 2007 server in their desk drawer, and we had to boot it up, see if it works."
Pilihan jatuh pada versi 2007 karena dianggap mewakili era "golden age" oleh komunitas, meski sebenarnya banyak yang meminta versi 2006. Charles, yang bergabung dengan tim OSRS beberapa tahun setelahnya, menyebut keputusan itu "agak arbitrer, tapi berdasarkan apa yang pemain anggap sebagai masa keemasan."
Voting Komunitas 70 Persen, Konten Baru Wajib Lolos Uji Publik
Yang membedakan OSRS dari server private atau MMO lawas lainnya adalah sistem tata kelolanya. Semua konten baru—termasuk ekspansi besar Varlamore yang rilis 2024—harus melewati voting komunitas dengan ambang batas persetujuan minimal 70 persen. Jika gagal, fitur tersebut langsung dibuang.
Charles mengakui sistem ini tidak selalu menyenangkan. "We are already running an MMO that's entirely decided by fans, but it's backed by a huge development team who could still do things that are at scale," jelasnya. Ia menambahkan bahwa ada kalanya proposal ditolak dan "sangat menyebalkan saat itu terjadi." Namun ia lebih memilih penolakan di tahap voting daripada menghabiskan enam bulan hingga setahun pengembangan untuk kemudian dibenci pemain.
Kreator Konten yang Menjadi Penjaga Warisan
Charles sendiri bukan orang luar yang ditugaskan mengelola OSRS. Ia adalah bagian dari generasi milenial yang tumbuh bersama RuneScape di masa sekolah menengah. "I grew up with the game. I was 14 in the school library playing RuneScape. I was just the one who never quit," kenangnya.
Filosofi kepemimpinannya pun lebih sebagai penjaga daripada pengarah visi tunggal. "With Old School RuneScape, it's what the community wants. We're making it for them and looking after it for them," ujarnya. Pujian terbaik yang pernah ia terima adalah ketika pemain mengatakan konten baru terasa seperti rilis asli 2006 atau 2007.
Standar Baru untuk Throwback Server MMO
OSRS disebut-sebut sebagai contoh pertama server "klasik" resmi yang didukung penuh developer—jauh sebelum WoW Classic mengikuti jejak serupa. Perpaduan antara voting komunitas dan dukungan tim pengembang skala besar membuatnya unggul dari sekadar fan server yang dikelola sukarelawan.
"Dengan versi fan server, skalanya tidak akan pernah sama. Sulit membayangkan mereka punya jumlah pemain sebanyak versi resmi, atau dukungan pengembangan yang setara," kata Charles. Pendekatan ini mungkin tidak cocok untuk semua MMO, tapi untuk OSRS, model tersebut terbukti berhasil mempertahankan relevansi selama lebih dari satu dekade.
Dengan rekor subscriber terbaru dan turnamen Deadman All Stars yang digelar di luar Inggris, OSRS menunjukkan bahwa game lawas tetap bisa kompetitif di industri yang didominasi judul-judul baru. Bagi pemain Indonesia yang masih setia grinding di Gielinor, kabar ini menegaskan bahwa server yang mereka huni tidak akan mati dalam waktu dekat.