PALANGKA RAYA — Rektor UPR Prof. Bhayu Rhama menegaskan pembukaan rumah oksigen gratis dan penerapan PJJ merupakan langkah konkret melindungi mahasiswa di tengah kabut asap yang sudah lama melanda Kalimantan Tengah, khususnya Kota Palangka Raya. Kampus menilai perlindungan warga kampus tidak cukup diwujudkan lewat imbauan, tetapi melalui fasilitas dan penyesuaian kegiatan perkuliahan.
Rumah oksigen gratis itu digagas BEM UPR setelah muncul keluhan soal gangguan pernapasan akibat karhutla. Presiden BEM UPR Jales Veva Jaya Mahe menyebut fasilitas tersebut menyasar mahasiswa sekaligus masyarakat sekitar yang terdampak.
Kabut asap karhutla yang berkepanjangan membuat kualitas udara di Palangka Raya memburuk. Keluhan pernapasan dari mahasiswa dan warga menjadi dasar utama pembukaan layanan tersebut.
"Konkretnya ini mampu membantu mahasiswa, sangat bermanfaat juga bagi masyarakat terdampak. Banyak keluh kesah terkait pernapasan akibat karhutla," terang Jales.
Bhayu menilai penanganan dampak karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Perhatian terhadap kesehatan masyarakat yang terdampak juga diperlukan agar risiko akibat kabut asap dapat diminimalkan.
Selain rumah oksigen, UPR menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk mengurangi risiko paparan asap selama mahasiswa mengikuti kegiatan akademik. Kebijakan itu menjadi respons kampus terhadap kondisi kualitas udara yang kurang baik.
"Langkah konkret untuk melindungi mahasiswa di tengah kabut asap sudah kita lakukan dengan melaksanakan PJJ. Kita juga mendirikan rumah oksigen gratis ini sebagai salah satu bentuk perlindungan kepada mereka," ucap Bhayu.
Dengan PJJ, aktivitas perkuliahan tetap berjalan tanpa menempatkan mahasiswa pada risiko paparan asap yang lebih besar. Kampus menyesuaikan kegiatan akademik dengan kondisi udara setempat.
UPR menyiapkan dukungan logistik untuk menunjang operasional rumah oksigen gratis. Penyediaan dukungan tersebut diharapkan menjaga keberlangsungan layanan selama masyarakat masih membutuhkan bantuan akibat paparan asap.
"Kita juga menyiapkan logistik yang dimiliki. Kita berharap Rumah Oksigen ini bisa berjalan secara konsisten. Semaksimal mungkin kita terus memberikan yang terbaik," ujarnya.
Bhayu berharap fasilitas yang digagas BEM UPR itu dapat dimanfaatkan secara optimal oleh mahasiswa maupun masyarakat. Ia menyebut rumah oksigen gratis sebagai bentuk bantuan yang dirasakan langsung oleh warga.
"Kita berharap rumah oksigen gratis dari BEM UPR ini bisa memberikan dampak langsung bagi seluruh mahasiswa dan masyarakat yang terpapar kabut asap yang sudah lama melanda Kalimantan Tengah, khususnya Kota Palangka Raya," kata Bhayu.
Ia menutup dengan pesan singkat soal semangat gotong royong dalam penanganan dampak karhutla. "Sama-sama saling membantu," tuturnya.