Legislator Kotim Minta Pemkab Antisipasi Kemarau Panjang, Panen Petani di Wilayah Selatan Berpotensi Gagal

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Minggu, 04 Oktober 2026 | 19:48:31 WIB
Lahan pertanian di wilayah selatan Kotawaringin Timur mengalami kekeringan dan tanah retak akibat kemarau panjang.

Anggota Komisi II DPRD Kotawaringin Timur, Zainuddin, meminta Pemkab Kotim menyiapkan langkah antisipasi dampak kemarau panjang terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah. Sebagian besar lahan pertanian di wilayah selatan disebut mengalami kekeringan parah hingga tanaman padi petani gagal panen. Zainuddin mendesak operasi pasar atau pasar murah digelar berkala di desa-desa terdampak agar pasokan bahan pokok tetap terjaga.

SAMPIT — Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur membuat lahan pertanian warga belum bisa diolah kembali. Zainuddin menyebut kondisi tanah yang mengering dan mulai retak memaksa petani menunda musim tanam. Kegagalan panen musim ini menambah beban rumah tangga petani yang sebagian sudah menjual hasil panen sebelumnya.

Panen Gagal, Tanah Retak Belum Bisa Ditanami

Wilayah selatan Kotim menjadi area paling terdampak kekeringan. Zainuddin menjelaskan, lahan di sana mengalami kondisi cukup parah hingga tanaman padi petani gagal panen.

“Sebagian besar hasil panen petani musim ini mengalami kegagalan. Kalau hujan turun pada Oktober, belum tentu lahan langsung bisa ditanami karena tanah sudah kering dan membutuhkan banyak air,” katanya di Sampit, Sabtu.

Tanah yang mengering dan mulai retak membuat petani belum dapat segera mengolah lahan. Hujan yang turun dalam waktu singkat dinilai belum cukup mengembalikan kondisi lahan agar siap ditanami.

Jadwal Musim Tanam Berpotensi Bergeser hingga Maret 2027

Dampak kekeringan berpotensi menggeser jadwal musim tanam yang selama ini berlangsung sekitar Oktober hingga Maret. Jika lahan baru memungkinkan ditanami pada Desember, masa panen diperkirakan ikut mundur.

“Apabila kondisi lahan baru memungkinkan untuk ditanami pada Desember, masa panen diperkirakan ikut bergeser hingga sekitar Maret 2027,” ujarnya.

Pergeseran itu perlu diantisipasi karena tidak hanya berdampak pada aktivitas petani, tetapi juga memengaruhi ketersediaan beras untuk kebutuhan masyarakat. Persediaan pangan warga berpotensi makin terbatas apabila produksi petani belum kembali normal.

Operasi Pasar Diminta Digelar Berkala di Desa Terdampak

Zainuddin meminta pemerintah daerah menjaga ketersediaan bahan kebutuhan pokok sekaligus mengendalikan kemungkinan kenaikan harga. Berkurangnya pasokan hasil pertanian menjadi pemicu yang perlu diwaspadai.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menggelar operasi pasar atau pasar murah secara berkala, terutama di desa-desa yang wilayah pertaniannya terdampak kekeringan.

“Langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan selama petani belum bisa kembali menghasilkan panen,” lanjutnya.

Harapan Hujan Merata agar Musim Tanam Pulih

Zainuddin berharap kemarau berkepanjangan segera berakhir sehingga hujan kembali turun merata di wilayah Kotim. Ketersediaan air yang cukup menjadi faktor penting bagi petani untuk memulihkan lahan dan memulai kembali musim tanam.

“Kami berharap kemarau berkepanjangan ini segera berakhir dan hujan kembali turun secara merata. Dengan begitu, petani bisa kembali mengolah lahan dan memulai musim tanam sehingga produksi pangan di Kotim tetap terjaga,” demikian Zainuddin.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: kalteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top