KALIMANTAN TENGAH — PT Geo Dipa Energi menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) hampir 1 gigawatt dalam 10 tahun dengan kebutuhan investasi US$ 5,75 miliar atau setara Rp 102,9 triliun. Target itu dihitung berdasarkan skenario business as usual, termasuk 14 lokasi eksplorasi baru yang disiapkan pemerintah. Bila terealisasi, kapasitas panas bumi nasional bisa melonjak dari 2,7 GW saat ini.
Paragraf pembuka: Direktur Utama PT Geo Dipa Energi Yudistian Yunis menyampaikan proyeksi tersebut dalam Media Gathering di Hotel Rancamaya, Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/10). Angka investasi itu memakai kurs Rp 17.901 per dolar AS. Sebelumnya, perusahaan memperkirakan kebutuhan dana hanya sekitar US$ 5,3 miliar atau Rp 94 triliun.
Penambahan 14 lokasi eksplorasi baru yang diumumkan pemerintah membuat kebutuhan investasi Geo Dipa naik sekitar US$ 400 juta. Lokasi-lokasi itu memiliki potensi energi sekitar 732 megawatt.
"Kalau ini ditambahkan, maka kebutuhan dari investment-nya itu akan kurang lebih meningkat US$ 0,4 miliar menjadi US$ 5,75 miliar dari US$ 5,3 miliar," kata Yudistian.
Menurut dia, eksplorasi menjadi kunci mempercepat pemanfaatan potensi panas bumi Indonesia yang mencapai sekitar 24 GW. Dari jumlah itu, kapasitas yang sudah dikembangkan baru sekitar 2,7 GW atau sekitar 11 persen.
Selama ini pengembangan panas bumi berjalan lambat karena biaya dan risiko eksplorasi tinggi. Satu sumur panas bumi bisa menelan biaya US$ 6 juta hingga US$ 8 juta.
Proses pengeboran memakan waktu sekitar 45 hari dengan kedalaman sumur mencapai 2.000 meter. Risikonya, pengeboran tidak selalu menghasilkan sumber uap yang layak dimanfaatkan pembangkit.
"Biaya pengembangannya dulu mahal. Sekarang hari ini kemungkinan sudah affordable bagi orang, kalau dulu masih terlalu mahal," ujar Yudistian.
Salah satu proyek andalan Geo Dipa adalah pengembangan lapangan panas bumi Patuha di Jawa Barat. Perusahaan kini mengoperasikan PLTP Patuha berkapasitas 55 MW dan sedang membangun tambahan 55 MW, sehingga totalnya akan mencapai 110 MW.
Geo Dipa juga telah menyiapkan tambahan 55 MW untuk tahap eksplorasi berikutnya. Perusahaan sudah memegang perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA) dengan PLN untuk pengembangan Patuha hingga 400 MW.
"Mudah-mudahan kalau eksplorasi ini bisa, kita ingin mempercepat supaya Patuha itu segera dapat 400," kata Yudistian.
Saat ini Geo Dipa mengoperasikan pembangkit panas bumi berkapasitas 120 MW. Perusahaan tengah membangun tambahan 110 MW dan menyiapkan pengadaan untuk 110 MW berikutnya.
"Artinya hari ini kami di Geo Dipa untuk geothermal sudah sedang berjalan sebesar hampir 400 Megawatt," katanya.
Untuk mendanai eksplorasi berikutnya, Geo Dipa masih berdiskusi dengan Asian Development Bank (ADB).
Penutup: Daya tarik panas bumi terletak pada pasokan listrik yang stabil dan tidak bergantung cuaca. Kapasitas pembangkitnya bisa mencapai sekitar 95 persen, membuat geothermal cocok menjadi sumber energi bagi industri yang butuh pasokan konsisten. Bagi Geo Dipa, tantangannya bukan hanya soal dana, tetapi juga membuktikan eksplorasi di lokasi baru benar-benar menghasilkan uap yang bisa dikonversi menjadi listrik.