KALIMANTAN TENGAH — Motorola kembali meramaikan pasar wearable lewat Moto Watch 2026. Dari jauh, perangkat ini terlihat seperti jam tangan pintar Wear OS premium dengan band baja kokoh dan desain elegan. Sayangnya, penampilan itu bohong belaka. Setelah diuji, perangkat ini justru berjalan di atas Real Time OS (RTOS), sistem operasi ringan yang biasanya dipakai perangkat embedded, bukan Wear OS milik Google.
Pertanyaan besar muncul soal siapa produsen sebenarnya di balik perangkat ini. Motorola memasarkan produk ini lewat kanal resminya sendiri, lengkap dengan label "Designed by Motorola" di bagian bawah jam. Kotak ritelnya bahkan mencantumkan Motorola Mobility sebagai pabrikan dan importir untuk pasar Inggris.
Namun, halaman About di situs resmi Moto Watch justru mencantumkan CE Brands/Vitalist, perusahaan white-label asal Kanada yang memegang lisensi merek Moto sejak 2023. Saat dikonfirmasi, perwakilan Motorola mengaku tidak memiliki informasi soal siapa pabrikan sebenarnya. Ini bukan pertama kalinya Motorola melakukan praktik lisensi semacam ini—kebangkitan Moto 360 pada 2019 juga digarap oleh licensee.
Unit yang dikirim ke redaksi adalah edisi spesial dengan dua pilihan band: baja dan silikon hijau Herbal Garden dari Pantone. Masalah pertama muncul saat mengganti band—retaining pin di band baja langsung terlepas jatuh ke lantai. Ini lumrah untuk band murah, tapi jadi pertanda awal kualitas build yang pas-pasan.
Spesifikasi dasarnya sebenarnya terdengar menjanjikan: case aluminium 47mm, crown stainless steel dengan logo Motorola hasil machining, layar OLED bulat 1,43 inci berlapis Gorilla Glass 3, sertifikasi IP68, Bluetooth 5.3+ LE, speaker dan mikrofon internal, GPS dual-band, serta storage 4GB. Baterainya diklaim tahan hingga 13 hari, atau tujuh hari dengan always-on display aktif.
Motorola tidak mau mengungkap chip apa yang tertanam di dalamnya. Kecurigaan langsung mengarah ke RTOS—sistem operasi yang jauh lebih terbatas dibanding Wear OS. UI-nya memang dibuat menyerupai Wear OS, lengkap dengan ikon-ikon yang mirip. Tapi setelah dipakai, keterbatasannya langsung terasa.
Proses setup saja sudah bermasalah. Aplikasi pendamping Moto Watch sempat macet dua kali sebelum akhirnya masuk ke layar konfigurasi. Aplikasi ini memberi kesan pengguna bisa memakai jam tanpa akun Motorola, tapi kenyataannya aplikasi bakal freeze sampai pengguna menyerah dan mendaftarkan email. Tutorial pengenalan UI juga berjalan patah-patah dengan animasi yang tersendat.
Manajemen notifikasi juga membingungkan. Mayoritas jam tangan pintar otomatis meneruskan semua notifikasi dari ponsel. Moto Watch justru memaksa pengguna memilih manual satu per satu notifikasi apa saja yang layak muncul di pergelangan tangan. Logikanya masuk akal, tapi default yang menyulitkan ini membuat banyak pengguna potensial malas mengaktifkannya.
Moto Watch 2026 adalah contoh klasik "harga murah ada sebabnya". Di harga USD 150 (sekitar Rp 2,4 juta), pembeli sebenarnya bisa mendapatkan Fitbit Charge 6 yang lebih mumpuni sebagai fitness tracker, atau menabung lebih untuk Wear OS sejati. Perangkat ini hanya cocok untuk mereka yang benar-benar mengutamakan penampilan alih-alih fungsionalitas—atau kolektor yang ingin melengkapi koleksi perangkat bermerek Motorola.