PALANGKA RAYA — Sebanyak 1.114 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat di Kalimantan Tengah sejak 1 Januari hingga 9 Agustus 2026. Data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng menyebutkan total bencana yang ditangani mencapai 1.333 kasus, dengan luas area terbakar menembus angka 2.237,73 hektare.
Menghadapi situasi tersebut, Pemprov Kalteng mengerahkan kekuatan penuh melalui satuan tugas udara dan darat. Sebanyak empat regu diterjunkan untuk pemantauan dari langit, sementara 16 regu lainnya bergerak di darat untuk memadamkan api sekaligus mendinginkan lahan gambut.
Distribusi pasukan darat dipusatkan di wilayah-wilayah yang menjadi langganan titik panas. Dari 16 regu yang dikerahkan, sepuluh regu di antaranya diarahkan ke Tumbang Nusa. Wilayah ini mendapat perhatian ekstra karena operasi gabungan juga diperkuat dengan tambahan regu dari luar untuk memastikan api tidak kembali menyala.
Sementara itu, satu regu ditempatkan di Kameloh Baru dan satu regu lainnya bersiaga di Kalampangan. Empat regu sisanya ditempatkan langsung di pos komando sebagai pasukan cadangan yang siap digerakkan sewaktu-waktu ke lokasi yang membutuhkan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng, Ahmad Toyib, menegaskan bahwa penanganan karhutla kali ini tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah. Sebagian besar lokasi kebakaran berada di lahan gambut yang berpotensi menyimpan bara api di bawah permukaan.
"Hal ini penting mengingat sebagian besar lokasi kebakaran berada di lahan gambut yang berpotensi menyimpan bara api di bawah permukaan," terangnya.
Toyib menjelaskan, pemadaman api yang terlihat di permukaan saja tidak cukup. Petugas diwajibkan melakukan tahapan pembasahan, pendinginan, dan penyekatan secara menyeluruh. Langkah ini krusial untuk memastikan tidak ada bara atau titik panas yang tersisa dan berpotensi memicu kebakaran susulan di kemudian hari.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menekankan bahwa operasi penanganan ini berjalan berkelanjutan, mulai dari pemantauan hingga gerak cepat di lapangan. "Kami sudah dan terus laksanakan, mulai dari pemantauan hingga gerak cepat petugas dalam melakukan penanganan karhutla," kata Agustiar di Palangka Raya, Senin.
Penanganan darurat ini tidak hanya bertumpu pada pemerintah provinsi. Sinergi lintas sektor melibatkan dukungan penuh dari pemerintah pusat, pemerintah kabupaten dan kota, serta TNI-Polri. Keterlibatan masyarakat di tingkat tapak juga menjadi kunci utama dalam memastikan upaya pemadaman dan pencegahan berjalan efektif hingga ke pelosok daerah.