Model AI Evo 2 dari Stanford dan Arc Institute Kini Bisa Rancang Virus Baru yang Fungsional

Penulis: Lukman Hakim  •  Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:12:31 WIB
Peneliti dari Arc Institute dan Stanford University melaporkan keberhasilan model AI Evo 2 merancang virus baru yang fungsional berdasarkan studi di jurnal Science.

KALIMANTAN TENGAH — Bayangkan sebuah program AI yang bekerja seperti ChatGPT, tetapi alih-alih belajar dari buku dan artikel, ia "membaca" miliaran rangkaian DNA. Itulah inti dari proyek riset terbaru yang digarap oleh Arc Institute di Palo Alto dan Stanford University. Hasilnya? Sebuah model bahasa raksasa yang mampu menulis "kalimat" genetik baru—termasuk cetak biru virus yang sebelumnya tidak pernah ada di alam.

Dalam eksperimen yang dilaporkan The New York Times berdasarkan studi di jurnal Science, tim peneliti melatih model genomik bernama Evo 1 dan Evo 2 menggunakan triliunan nukleotida—blok penyusun DNA—hingga model tersebut memahami "tata bahasa" kode genetik. Tujuannya bukan sekadar iseng; mereka ingin menguji sejauh mana AI bisa merekayasa entitas biologis dari nol.

Dari 700.000 Desain, 16 Virus Berhasil "Hidup"

Untuk membatasi risiko, para ilmuwan secara sengaja membatasi ruang lingkup pelatihan model. Mereka hanya menggunakan data dari sekitar 15.000 virus dalam keluarga yang sama dengan Phi X-174, yaitu virus berukuran sangat kecil yang hanya menginfeksi bakteri E. coli. Virus jenis ini sama sekali tidak berbahaya bagi manusia, hewan, tumbuhan, atau jamur.

Setelah pelatihan selesai, Evo menghasilkan sekitar 700.000 kandidat desain virus baru. Tim kemudian menyaring dan memilih 285 kandidat yang paling menjanjikan untuk disintesis DNA-nya di laboratorium. DNA tersebut lalu disuntikkan ke dalam bakteri.

Hasilnya, 16 dari 285 desain tersebut berhasil menjadi virus yang berfungsi penuh. Beberapa di antaranya bahkan bereproduksi lebih cepat dibandingkan virus alami Phi X-174. Ini membuktikan bahwa AI tidak hanya bisa meniru pola yang sudah ada, tetapi juga menciptakan variasi baru yang viabel.

Potensi Besar untuk Terapi Gen, Ancaman Nyata untuk Keamanan

Sisi positif dari riset ini cukup menjanjikan. Kemampuan merancang virus secara presisi bisa dipakai untuk mengembangkan terapi gen yang lebih efektif, memperbaiki cara kita memahami genom, atau menciptakan alat baru untuk melawan bakteri patogen yang kebal antibiotik. Dalam lingkungan yang diatur ketat dengan etika yang jelas, teknologi semacam ini bisa menjadi terobosan besar.

Namun, sisi gelapnya juga tidak bisa diabaikan. Penelitian sebelumnya sudah menunjukkan bahwa chatbot standar pun bisa memberikan panduan yang mengkhawatirkan terkait perencanaan senjata biologis. Jika model AI yang lebih canggih bisa merancang genom secara langsung, potensi penyalahgunaannya meningkat drastis. Seseorang dengan niat jahat bisa saja memanfaatkan model seperti Evo untuk mendesain patogen yang lebih menular atau mematikan.

Para peneliti di balik studi ini mengklaim telah mengambil tindakan pencegahan yang memadai dan membatasi model mereka agar tidak bisa digunakan untuk target selain bakteri. Tetapi, seperti halnya teknologi nuklir, pertanyaan besarnya bukan pada sainsnya, melainkan pada siapa yang memegang kendali dan bagaimana regulasi mengikutinya.

Perlombaan Melawan Waktu antara Inovasi dan Regulasi

Kecepatan perkembangan AI saat ini jauh melampaui kecepatan pembuatan aturan main. Regulasi bioteknologi yang ada sekarang sebagian besar dirancang untuk laboratorium konvensional, bukan untuk algoritma yang bisa dijalankan siapa saja di komputer. Celah inilah yang menjadi kekhawatiran utama para pakar keamanan hayati.

Studi ini menjadi pengingat bahwa kecerdasan buatan tidak lagi sekadar alat untuk menulis teks atau membuat gambar. Kini, AI sudah masuk ke ranah yang jauh lebih fundamental: merancang blok bangunan kehidupan itu sendiri. Hasilnya bisa menjadi berkah besar bagi dunia medis—atau malapetaka jika jatuh ke tangan yang salah.

Yang jelas, teknologi ini tidak akan berhenti berkembang. Pertanyaannya, akankah sistem pengaman dan etika kita mampu mengejar ketertinggalan sebelum semuanya terlambat?

Reporter: Lukman Hakim
Sumber: engadget.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top