KALIMANTAN TENGAH — Lebih dari satu dekade mengabdi, Tim Krul pernah menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang Newcastle United. Namun, sebuah cedera lutut parah yang dialaminya saat membela Timnas Belanda pada 2015 menjadi titik balik yang mengubah segalanya. Alih-alih kembali ke posisi semula, ia justru mendapati pintu keluar yang tak ia inginkan.
Krul menceritakan momen nahas itu terjadi saat sesi latihan bersama skuad Oranje. "Saya datang untuk menyambut umpan silang dan Virgil van Dijk memberi sedikit dorongan saat kami berebut bola. Saya kehilangan keseimbangan dan robek ACL saya," kenangnya kepada FourFourTwo.
Ia mengakui masa pemulihan yang melebihi 14 bulan itu menjadi ujian mental terbesar dalam kariernya. "Saya percaya segala sesuatu terjadi karena suatu alasan. Itu mengubah saya sebagai pribadi. Sangat sulit karena proyek pemulihannya panjang, apalagi ada manajer baru yang datang," ujarnya.
Untuk memulihkan kepercayaan diri, Krul menjalani masa peminjaman ke AZ Alkmaar. Ia berhasil membawa timnya melaju ke final Piala Belanda, meski kalah 0-2 dari Vitesse Arnhem. Pengalaman itu dinilainya krusial untuk mengembalikan performa terbaiknya.
Namun, ketika siap bersaing kembali di Newcastle, kabar buruk menantinya. "Rafa Benitez, yang saat itu menjadi manajer Newcastle, memutuskan dia menginginkan kiper yang berbeda dan saya harus pergi lewat pintu belakang," ungkap Krul.
Krul, yang tercatat tampil lebih dari 180 kali untuk The Magpies, merasa kepergiannya tidak berjalan natural. "Itu satu-satunya penyesalan saya, bahwa saya tidak pernah bisa pergi secara organik. Saya harus memaksakan kepindahan ke Brighton untuk menyelamatkan karier, karena itu tidak akan terjadi di bawah Rafa," tegasnya.
Kini, di usia 38 tahun, Krul tetap memandang masa sulit itu sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Meski hubungannya dengan klub berakhir pahit, kenangan indah bersama suporter Newcastle tetap menjadi hal yang ia jaga hingga sekarang.