PURUK CAHU — Upacara yang mengusung tema "Hebat Bersinergi Membangun Tana Malai Tolung Lingu, menuju Murung Raya Maju, Mandiri, dan Sejahtera" ini menjadi ajang bagi Gubernur Agustiar Sabran untuk mengingatkan pentingnya nilai kebersamaan. Semangat Huma Betang dan Belom Bahadat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dinilai menjadi kekuatan utama dalam menjawab tantangan pembangunan ke depan.
Gubernur Agustiar Sabran menegaskan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak bisa hanya bertumpu pada bantuan pemerintah pusat atau provinsi. Daerah yang maju adalah daerah yang mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa kehilangan identitas budayanya.
"Ke depan kita harus memperkuat kemandirian daerah yang berbasis pada potensi unggulan daerah serta kearifan lokal karena daerah yang maju adalah daerah yang mampu berdiri di atas kaki sendiri dan tidak kehilangan jati diri," ungkap Agustiar dalam sambutannya.
Menurutnya, potensi sumber daya alam dan budaya yang dimiliki Murung Raya harus dikelola secara optimal. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berkomitmen mendorong pembangunan yang adil dan merata, khususnya di sektor pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur dasar.
Di luar persoalan infrastruktur, Gubernur juga menyoroti program unggulan Pemprov Kalteng, yakni Kartu Berkah Sejahtera (KBS). Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengawal program bantuan sosial tersebut agar tepat sasaran.
Kabupaten Murung Raya mencatatkan sebanyak 4.903 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dalam program KBS. Angka ini menjadi perhatian serius agar pendistribusian bantuan benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan, bukan justru dinikmati oleh pihak yang tidak berhak.
Memasuki puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026, Gubernur Agustiar Sabran turut mengingatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia meminta seluruh warga Murung Raya untuk tidak membersihkan atau membuka lahan dengan cara membakar.
Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga kondusivitas lingkungan dan kesehatan masyarakat di tengah cuaca ekstrem. Karhutla tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berpotensi menimbulkan kabut asap yang mengganggu aktivitas warga dan transportasi.
Rangkaian peringatan ulang tahun kabupaten yang ke-24 tersebut kemudian diakhiri dengan acara ramah tamah bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Murung Raya. Suasana kekeluargaan mewarnai akhir dari rangkaian acara yang digelar di Puruk Cahu tersebut.