Karhutla di Kotim Hanguskan 2 Hektare Lahan, Ular Sanca Kembang Ditemukan Mati Terpanggang di Sampit

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 08:02:31 WIB
Petugas memadamkan api yang melalap lahan seluas tiga hektare di Jalan Amin Klaru, Sampit.

SAMPIT — Jajaran gabungan petugas pemadam kebakaran menemukan bangkai ular sanca kembang saat memadamkan api yang melalap kawasan kebun sawit dan semak belukar di Jalan Amin Klaru, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 12.27 WIB dan berhasil dijinakkan pada keesokan harinya.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan bahwa api menghanguskan area seluas tiga hektare, di mana dua hektare di antaranya berhasil dipadamkan. Proses pendinginan lahan gambut itu menghabiskan sekitar 122 ribu liter air yang dikerahkan melalui dua unit mesin pompa.

Predator Alami yang Kalah Cepat dari Kobaran Api

Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, menjelaskan bahwa reptil tersebut diduga tidak sempat menyelamatkan diri saat kobaran api melanda habitatnya. Satwa yang biasanya bersembunyi di lubang tanah ini terpaksa keluar untuk menghindari panas, namun kalah cepat oleh laju api.

“Biasanya ular bersembunyi di lubang tanah. Saat kebakaran terjadi, dia keluar menghindari api, tetapi kalah cepat sehingga mati terbakar,” jelas Muriansyah, Jumat (31/7/2026).

Bukan Kali Pertama, Satwa Liar Jadi Korban Karhutla

Muriansyah menegaskan bahwa kematian satwa akibat kebakaran bukanlah fenomena baru di Kotim. Pada tahun-tahun sebelumnya, berbagai jenis ular seperti sanca batik, sanca gendang, kobra, hingga king kobra kerap ditemukan mati di areal bekas kebakaran.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, satwa liar jenis ular seperti sanca batik, sanca gendang, kobra hingga king kobra juga sering ditemukan mati di areal bekas kebakaran,” ungkapnya.

Dampak Berantai: Populasi Tikus Berpotensi Melonjak

Lebih jauh, Muriansyah memperingatkan bahwa kematian ular dalam skala besar dapat memicu gangguan ekologis yang justru merugikan manusia. Sebagai predator alami tikus, berkurangnya populasi ular membuat hama pengerat berkembang tanpa kendali.

“Contoh berkurangnya ular banyak mati karena terbakar, selain karena perburuan akan berdampak lonjakan tikus. Populasi tikus tidak terkendali, menyerang tanaman dan sumber pakan lainnya. Ini yang mengalami kerugian akan kembali ke kita juga, manusia,” ucapnya.

Kendala di Lapangan: Jalur Api Memutari Semak Belukar

Proses pemadaman sendiri berlangsung tidak mudah. Petugas harus bekerja ekstra karena titik api menyebar mengitari area semak belukar yang cukup luas, membuat akses menuju pusat kebakaran menjadi sulit dijangkau.

“Kendalanya jalur api memutari semak belukar, sehingga personel harus bekerja ekstra agar api tidak terus merambat ke area lain,” kata Multazam.

Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih melakukan pendinginan di titik-titik yang berpotensi memunculkan api baru, mengingat karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar kembali di musim kemarau.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: tintaborneo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top