KALIMANTAN TENGAH — Startup energi nuklir Antares mengumumkan perolehan pendanaan Seri C senilai USD 470 juta (sekitar Rp 7,7 triliun) pada Senin lalu. Putaran pendanaan ini terdiri dari USD 370 juta ekuitas dan USD 100 juta utang, dipimpin oleh Paradigm dan Caffeinated Capital, dengan partisipasi dari Industrious Ventures, Point72 Ventures, dan Shine Capital.
Antares mengembangkan small modular reactor (SMR) yang mampu menghasilkan listrik antara 100 kilowatt hingga 1 megawatt — cukup untuk memasok daya hingga 750 rumah tinggal. Target pemasangan perdananya adalah pangkalan Angkatan Udara AS di Colorado dan Montana melalui program Pentagon bertajuk Advanced Nuclear Power for Installations.
Perusahaan ini menjadi salah satu dari tiga finalis program tersebut. Reaktor demonstrasi Antares, Mark-0, telah mencapai kondisi kritis (criticality) pada 4 Juni lalu di Idaho National Laboratory.
Seperti banyak startup nuklir modern lainnya, Antares menggunakan bahan bakar TRISO. Teknologi ini membungkus uranium dalam lapisan karbon dan keramik berbentuk bola sebesar bola biliar. TRISO dirancang agar tidak meleleh pada suhu tinggi reaktor dan dapat didinginkan dengan gas helium atau garam cair.
Pendekatan ini disebut-sebut sebagai alternatif lebih aman dibanding bahan bakar nuklir tradisional yang berisiko meleleh jika sistem pendingin gagal.
Minat investor terhadap startup fisi nuklir meningkat drastis seiring melonjaknya kebutuhan listrik untuk pusat data AI dan elektrifikasi ekonomi. Pada April lalu, X-energy mengantongi USD 1 miliar lewat IPO. Sementara itu, Radiant Energy, Standard Nuclear, dan Last Energy masing-masing mengumpulkan dana sembilan digit sejak Desember tahun lalu.
Antares sendiri sebelumnya menutup putaran Seri B senilai USD 96 juta pada Desember lalu. Total pendanaan yang telah diraup startup ini mencapai USD 604 juta berdasarkan data PitchBook.
Meski antusiasme investor tinggi, startup nuklir canggih masih menghadapi hambatan serius menuju komersialisasi. Rantai pasokan di AS belum matang dan produksi massal sulit diwujudkan dalam waktu dekat. Banyak startup SMR mengklaim produksi massal akan menekan biaya, namun manfaat itu biasanya baru terasa setidaknya satu dekade kemudian.
Lazard, firma analis biaya energi, memperkirakan SMR generasi pertama yang mulai beroperasi awal 2030-an akan memiliki biaya sekitar USD 214 per megawatt hour. Pada harga tersebut, SMR lebih mahal dibanding semua jenis pembangkit listrik kecuali turbin gas termahal.
Antares belum mengungkapkan harga jual reaktornya. Namun, keputusan mengejar kontrak militer AS dinilai strategis. Militer dikenal sebagai pelanggan yang tidak sensitif terhadap harga — berbeda dengan pelanggan komersial atau rumah tangga yang sangat memperhitungkan biaya per kilowatt hour.
Startup ini menargetkan reaktor penghasil listrik pertamanya beroperasi tahun depan, dengan pemasangan di instalasi militer AS pada 2028.