PALANGKA RAYA — Langkah strategis ini diambil PLN sebagai bentuk komitmen menciptakan budaya kerja yang aman dan harmonis di Kalimantan Tengah. Kegiatan yang digelar di Aula PLN UP3 Palangka Raya itu menghadirkan narasumber dari Densus 88 yang memberikan materi tentang deteksi dini dan bahaya laten radikalisme.
Pilihan menggandeng satuan elite antiteror ini bukan tanpa alasan. Pencegahan radikalisme tidak bisa dilakukan secara parsial, terutama di sektor infrastruktur vital seperti kelistrikan. PLN menilai pemahaman tentang IRET harus dimiliki oleh setiap pegawai agar tidak ada celah bagi paham ekstrem masuk ke lingkungan kerja.
Dalam sosialisasi tersebut, tim Densus 88 memaparkan modus operandi penyebaran paham radikal, termasuk melalui media sosial dan organisasi kemasyarakatan. Para karyawan juga dibekali cara melaporkan jika menemukan indikasi aktivitas mencurigakan di sekitar tempat tinggal atau tempat kerja.
Manajemen PLN UP3 Palangka Raya menekankan bahwa setiap pegawai memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing. Bukan hanya di kantor, kewaspadaan juga harus diterapkan di lingkungan tempat tinggal.
Pencegahan radikalisme tidak bisa hanya mengandalkan aparat keamanan. Kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat, termasuk pekerja di perusahaan negara, menjadi kunci utama. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan seluruh insan PLN di Palangka Raya mampu menjadi agen perdamaian dan menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama atau ideologi.
PLN UP3 Palangka Raya berencana menggelar kegiatan serupa secara berkala. Evaluasi pemahaman karyawan terhadap materi IRET juga akan dilakukan untuk memastikan pesan pencegahan terserap dengan baik. Ke depan, materi serupa akan diintegrasikan ke dalam program pembinaan sumber daya manusia perusahaan.
Langkah ini menjadi contoh konkret bagaimana sektor swasta dan BUMN dapat bersinergi dengan aparat keamanan untuk menjaga stabilitas nasional dari ancaman radikalisme yang bisa muncul di mana saja.