PALANGKA RAYA — Pelatihan bagi pekebun sawit rakyat Kotawaringin Timur itu dibagi dalam dua kelas. Sebanyak 149 peserta mempelajari teknik budidaya kelapa sawit, sementara 88 peserta lainnya mendalami materi panen dan pascapanen.
Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, SP., MP., menegaskan bahwa keberhasilan industri sawit Indonesia ke depan tidak semata-mata ditentukan oleh teknologi atau bibit unggul. “Keberhasilan sawit Indonesia ke depan ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh kualitas petaninya,” ujarnya saat membuka kegiatan, Jumat (19/6/2026).
Menurut Idum, sektor perkebunan kelapa sawit saat ini menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Mulai dari tuntutan peningkatan produktivitas, program peremajaan tanaman tua, hingga standar ketat pasar global terhadap praktik perkebunan berkelanjutan.
Ia menambahkan, kesalahan dalam proses panen maupun pascapanen kerap menjadi penyebab hilangnya potensi pendapatan petani. Materi pelatihan mencakup teknik pemeliharaan tanaman, pemupukan, konservasi tanah dan air, hingga standar panen yang baik untuk meningkatkan mutu hasil.
“Investasi terbaik bagi petani bukan hanya pada sarana produksi, tetapi juga pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan,” kata Idum.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotawaringin Timur, Yephi Hartady Periyanto, mengingatkan petani sawit rakyat untuk melengkapi legalitas kebun. Menurutnya, Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) menjadi pintu gerbang bagi petani untuk mengakses program kemitraan, pelatihan, hingga sertifikasi.
“Petani sawit harus terus meningkatkan kompetensinya. STDB adalah pintu gerbang untuk naik kelas,” ujar Yephi.
Ia juga mendorong petani mulai menargetkan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Sertifikasi itu, kata Yephi, akan memperkuat daya saing di pasar nasional maupun internasional. Peningkatan kompetensi yang dibarengi legalitas usaha dan prinsip keberlanjutan disebutnya mampu mendorong produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.
Kepala Bidang Perbenihan dan Budidaya Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Jayan Wahyudi, meminta peserta tidak menyimpan sendiri ilmu yang diperoleh. “Kami berharap ilmu yang didapat selama pelatihan tidak berhenti pada peserta saja, tetapi dapat dibagikan kepada petani lain sehingga manfaatnya menjadi lebih luas,” ujarnya.
Jayan juga menyoroti pentingnya pengurusan STDB yang berpengaruh langsung terhadap akses pasar dan stabilitas harga tandan buah segar (TBS). Pemahaman mengenai pola kemitraan dan akses informasi, lanjutnya, dibutuhkan agar petani memiliki posisi tawar yang lebih baik saat harga sawit berfluktuasi.
“Kalau SDM petaninya meningkat, saya yakin produktivitas kebun dan kesejahteraan petani sawit di Kalimantan Tengah juga akan ikut meningkat,” pungkas Jayan.
Pelatihan yang difasilitasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut diharapkan mencetak pekebun sawit yang lebih profesional dan siap menghadapi tantangan industri berkelanjutan ke depan.