KUALA KAPUAS — Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kapuas memasuki fase kritis. Bupati Kapuas Muhammad Wiyatno menyebut musim kemarau tahun 2026 ini bukan kemarau biasa karena dipengaruhi El Niño kategori moderat hingga kuat yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027.
Wiyatno menyampaikan hal itu saat memimpin Apel Siaga Karhutla 2026 di lapangan perusahaan sawit Desa Sriwidadi, Kecamatan Mantangai, Jumat. Ia menegaskan wilayah Mantangai dan Dadahup yang didominasi lahan gambut sangat rentan terbakar jika tidak diantisipasi sejak dini.
Data evaluasi tahun 2025 menunjukkan luas kebakaran di Kapuas mencapai 274,79 hektare. Kecamatan Mantangai menjadi wilayah terdampak terbesar dengan 132,69 hektare, disusul Dadahup seluas 62,9 hektare.
Menurut Wiyatno, langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan upaya pemadaman, terutama pada lahan gambut yang sulit dipadamkan dan membutuhkan biaya besar. "Kata kunci kita tahun ini adalah pencegahan, kesiapsiagaan, deteksi dini, patroli terpadu, dan tanggapan cepat," tegasnya.
Dalam apel siaga tersebut, ditandatangani nota kesepahaman antara pihak perusahaan dan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA). Melalui kerja sama ini, masyarakat dilibatkan secara aktif sebagai garda terdepan dalam patroli, pemantauan, sosialisasi, pelaporan cepat, hingga pemadaman awal apabila terjadi kebakaran.
Pemkab Kapuas berharap kerja sama itu tidak hanya menjadi dokumen formal, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata dengan dukungan pelatihan dan sarana memadai.
Wiyatno meminta seluruh perusahaan memastikan sarana dan prasarana penanggulangan Karhutla siap operasi 100 persen. "Termasuk meningkatkan patroli rutin, menjaga fungsi sekat kanal, embung, dan menara pantau, serta memperkuat koordinasi lintas instansi," katanya.
Kepada camat dan kepala desa, ia meminta sosialisasi bahaya Karhutla digencarkan, termasuk larangan membuka lahan dengan cara dibakar. Patroli gabungan dan pelaporan titik panas secara cepat juga harus diperkuat. Wiyatno juga mengajak tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat untuk memperkuat edukasi melalui pendekatan budaya dan nilai-nilai kebaikan.
"Kita jaga alam, maka alam akan menjaga kita. Mari jadikan musim kemarau ini sebagai bukti bahwa Kapuas mampu tangguh melalui sinergi pemerintah, perusahaan, aparat, dan masyarakat," demikian Wiyatno.