KALIMANTAN TENGAH — Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel, Ahmad Dohiri, mengungkapkan kekhawatirannya atas tren kenaikan ini. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, potensi peningkatan jumlah kebakaran hingga akhir tahun diproyeksikan melonjak drastis.
“Hingga bulan Juni ini sudah tercatat 50 kejadian kebakaran. Jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 61 kejadian selama satu tahun, tentu ada potensi peningkatan yang cukup signifikan,” ujarnya kepada Banten Ekspres, Kamis (18/6/2026).
Dari hasil investigasi di lapangan, Damkar menemukan bahwa 80 persen dari total kebakaran dipicu oleh masalah instalasi listrik. Faktor dominan lainnya adalah kelalaian manusia (human error) yang diperparah oleh kondisi cuaca panas selama musim kemarau.
“Yang paling banyak tetap karena kelalaian manusia. Cuaca panas memang berpengaruh, tetapi faktor dominannya masih human error,” tambah Dohiri.
Ia merinci, mayoritas kebakaran terjadi di rumah tinggal dan pertokoan. Temuan di lapangan menunjukkan banyak warga masih menggunakan kabel dan peralatan listrik yang sudah usang atau tidak layak pakai. Praktik penggunaan satu stop kontak untuk banyak peralatan elektronik berdaya tinggi—seperti kulkas, televisi, dan pengisi daya ponsel—secara bersamaan juga menjadi pemicu utama korsleting.
“Sering ditemukan satu colokan digunakan untuk banyak peralatan sekaligus, seperti kulkas, televisi, hingga pengisi daya telepon seluler. Kondisi ini menyebabkan panas berlebih dan berpotensi menimbulkan korsleting listrik,” jelasnya.
Menyikapi hal ini, Damkar mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama selama musim kemarau dengan suhu udara tinggi. Warga diminta rutin memeriksa kondisi instalasi listrik di rumah dan segera mengganti kabel atau perangkat yang sudah rusak maupun usang.
“Kalau mengganti instalasi listrik, gunakan produk yang sudah berstandar SNI. Jangan tergiur harga murah karena kualitasnya belum tentu baik dan berisiko menimbulkan kebakaran,” tegas Dohiri.
Di luar penanganan kebakaran, Damkar Kota Tangsel mencatat lonjakan signifikan pada layanan penyelamatan (rescue) non-kebakaran. Hingga pertengahan Juni 2026, petugas telah menangani 484 operasi penyelamatan. Angka tersebut sudah melampaui total layanan penyelamatan sepanjang tahun 2025 yang berkisar 380 kejadian.
“Untuk penyelamatan non-kebakaran saat ini sudah mencapai 484 kejadian. Padahal tahun lalu hanya sekitar 380 kejadian selama satu tahun penuh,” ungkapnya.
Dohiri memperkirakan jumlah layanan penyelamatan hingga akhir tahun dapat meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Kasus yang paling banyak ditangani adalah evakuasi ular yang masuk ke permukiman warga, disusul gangguan sarang tawon, dan evakuasi biawak.
“Paling banyak masih evakuasi ular, kemudian tawon, lalu biawak. Selebihnya ada berbagai jenis laporan penyelamatan lainnya,” tutupnya.