PALANGKA RAYA — Lewat platform Smart Counseling, siswa cukup mengisi identitas dasar seperti nama, kelas, dan asal sekolah untuk mulai berkonsultasi. Seluruh data yang masuk dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan layanan BK. Tampilan aplikasi dibuat sederhana dan ramah pengguna agar mudah diakses oleh semua kalangan siswa.
Rahmi menjelaskan bahwa Smart Counseling hadir untuk menjawab tantangan layanan konseling di era modern. “Melalui platform ini, peserta didik dapat lebih mudah menghubungi guru BK tanpa harus menunggu jadwal tertentu. Harapannya, setiap permasalahan dapat ditangani lebih cepat sehingga peserta didik memperoleh bantuan yang dibutuhkan secara tepat waktu,” ujarnya.
Selama ini, layanan BK di sekolah sering kali terbatas oleh jam pertemuan dan ruang konseling yang tersedia. Dengan aplikasi ini, hambatan tersebut coba dihilangkan. Siswa yang merasa canggung atau malu bertatap muka langsung pun punya alternatif untuk menyampaikan masalah secara tertulis melalui platform.
Smart Counseling memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya akses mudah, layanan cepat, respon cepat, serta solusi yang aman dan tepat. Fitur-fitur ini memungkinkan guru BK memberikan layanan yang lebih efektif sekaligus membantu peserta didik memperoleh pendampingan sesuai kebutuhan mereka.
Aplikasi ini tidak hanya memudahkan siswa, tetapi juga memperkuat komunikasi antara peserta didik dan guru BK. Dengan slogan “Ceritakan, Konsultasikan, Temukan Solusi Bersama BK”, platform ini menjadi jembatan bagi siswa untuk mendapatkan layanan bimbingan yang profesional dan responsif.
Kehadiran Smart Counseling menjadi salah satu langkah nyata SMP Al-Amin Palangka Raya dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung layanan pendidikan yang lebih modern dan humanis. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan keterjangkauan layanan BK, memperkuat komunikasi antara peserta didik dan guru BK, serta menciptakan lingkungan sekolah yang lebih peduli terhadap perkembangan dan kesejahteraan peserta didik.
Rahmi berharap inovasi ini bisa menjadi contoh bagi sekolah lain di Kalimantan Tengah untuk mulai mengadopsi layanan konseling berbasis digital. Menurutnya, tantangan psikologis siswa di era digital semakin kompleks, sehingga metode layanan juga harus terus beradaptasi.