Harga Pertamax Naik Lagi, Ekonom: Kenaikan Ini Sudah Lama Ditunggu

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 13:52:01 WIB
Kenaikan harga Pertamax resmi diberlakukan mulai minggu ini di Kalimantan Tengah.

KALIMANTAN TENGAH — Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax akhirnya resmi berlaku. Pertamina Patra Niaga mengumumkan penyesuaian harga terbaru yang langsung berdampak pada kantong pengguna kendaraan bermotor di Indonesia.

Harga Minyak Mentah Mendorong Kenaikan

Mohammad Faisal dari CORE Indonesia menjelaskan, tekanan utama berasal dari harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang terus merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini membuat beban biaya produksi Pertamina membengkak.

“Penyesuaian harga Pertamax sebenarnya sudah lama diprediksi. Lonjakan ICP membuat ruang bagi Pertamina untuk menahan harga semakin sempit,” ujar Faisal dalam keterangannya, Senin (15/4).

Ia menambahkan, kenaikan ini bukanlah keputusan mendadak. Fluktuasi harga minyak global sudah terlihat sejak awal tahun, dan perusahaan pelat merah itu harus menjaga keseimbangan antara bisnis dan daya beli masyarakat.

Dampak Langsung ke Konsumen

Kenaikan harga Pertamax otomatis membebani pengeluaran transportasi masyarakat, terutama mereka yang sehari-hari menggantungkan kendaraan pribadi. Pengemudi ojek online dan pengusaha logistik skala kecil menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Meski demikian, Faisal menilai langkah ini tetap lebih rasional dibandingkan membiarkan Pertamina menanggung beban terlalu lama. “Kalau terus ditahan, justru bisa mengganggu keuangan perusahaan dan pasokan ke depan,” katanya.

Pertamina Patra Niaga sendiri belum merinci skema kompensasi atau program tambahan bagi konsumen setia. Namun, pengamat memperkirakan perusahaan akan mengandalkan promo atau diskon terbatas untuk meredam keluhan.

Apa yang Berubah bagi Pengguna?

Dengan harga baru, selisih antara Pertamax dan BBM subsidi seperti Pertalite semakin melebar. Ini berpotensi mendorong sebagian pengguna beralih ke produk yang lebih murah, atau justru mengurangi frekuensi perjalanan.

Kebijakan ini juga menjadi sinyal bagi pasar bahwa tekanan harga energi global belum mereda. Para analis memperkirakan, jika ICP terus bertahan di level tinggi, bukan tidak mungkin akan ada penyesuaian lagi dalam beberapa bulan ke depan.

Bagi masyarakat, yang bisa dilakukan kini adalah menyesuaikan anggaran transportasi atau mulai mempertimbangkan opsi bahan bakar alternatif. Sementara bagi Pertamina, tantangan ke depan adalah menjaga pasokan tetap lancar tanpa mengorbankan kualitas.

Reporter: Nanda Firmansyah
Back to top