SAMPIT — Lonjakan harga karet di tingkat petani menjadi angin segar bagi perekonomian warga Kotawaringin Timur. Jika sebelumnya hasil sadapan hanya dihargai Rp4 ribu per kilogram, kini nilainya melesat tiga hingga empat kali lipat menjadi Rp11 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram.
Iwan, seorang petani karet di Desa Bajarum, Kecamatan Kota Besi, mengaku tidak menyangka harga bisa kembali melesat tinggi. Menurutnya, kondisi ini menjadi rezeki yang luar biasa bagi para penyadap.
"Ini rejeki yang luar biasa kemarin turun sampai dengan Rp4 ribu per kilogramnya, hasil sadapan sekarang lebih bernilai," kata Iwan kepada awak media, Kamis (4/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa harga jual sangat bergantung pada kualitas getah karet yang dihasilkan. Petani yang mampu menyajikan bahan baku bersih dan kering akan mendapatkan harga terbaik.
"Tergantung kualitas juga. Kalau bagus ya harga juga bagus. Kalau jelek harga juga turun," pungkasnya.
Meski tengah menikmati momentum kenaikan, para petani berharap harga karet tidak kembali anjlok dalam waktu dekat. Fluktuasi harga yang ekstrem selama ini kerap membuat petani kesulitan merencanakan keuangan rumah tangga.
"Alhamdulillah. Mudah-mudahan stabil seperti ini seterusnya," ucap Iwan penuh syukur.
Kenaikan harga karet di Kotim ini sejalan dengan tren penguatan harga komoditas alam di pasar global. Bagi petani di pedalaman Kalimantan Tengah, karet masih menjadi salah satu andalan utama selain kelapa sawit dan karet alam olahan.