Harga BBM Tinggi Bikin Sekolah di AS Jebol Anggaran, Ada yang Boros Rp 3,2 Miliar Per Bulan

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 07:59:31 WIB
Kenaikan harga BBM global menyebabkan pembengkakan anggaran sekolah di AS, khususnya untuk operasional bus.

KALIMANTAN TENGAH — Kenaikan harga BBM global yang tak kunjung mereda memberikan dampak langsung pada sektor pendidikan di Amerika Serikat. Distrik-distrik sekolah, terutama yang memiliki armada bus dalam jumlah besar, merasakan pukulan paling keras. Anggaran bahan bakar yang membengkak secara drastis memaksa pihak sekolah untuk melakukan penyesuaian, mulai dari memangkas rute perjalanan hingga menunda pembelian perlengkapan baru.

Beban Tambahan Hingga Rp 4 Miliar Per Bulan di Milwaukee

Salah satu contoh paling gamblang datang dari Milwaukee Public Schools. Distrik sekolah di Wisconsin ini mencatat pengeluaran ekstra sebesar 148.000 dolar AS (sekitar Rp 2,3 miliar) pada Maret lalu hanya untuk menutup selisih harga BBM. Angka tersebut melonjak drastis menjadi 250.000 dolar AS (sekitar Rp 4 miliar) per bulan pada April dan Mei.

Nominal itu setara biaya operasional tambahan yang tidak direncanakan dalam anggaran tahunan. Jika diakumulasikan selama tiga bulan, total dana darurat yang terkuras untuk BBM mencapai nyaris 650.000 dolar AS atau lebih dari Rp 10 miliar.

Mengapa Sekolah Paling Terdampak

Distrik sekolah di AS sangat bergantung pada bus untuk mengantar jemput siswa. Rata-rata armada bus menghabiskan ratusan galon solar per hari. Ketika harga BBM naik, biaya operasional per bus ikut melonjak tanpa bisa dikompensasi dengan mengurangi frekuensi perjalanan.

“Kami tidak punya pilihan selain tetap mengoperasikan bus. Anak-anak harus sampai ke sekolah,” ujar juru bicara Milwaukee Public Schools dalam pernyataan resminya. Kondisi ini diperparah oleh kontrak bahan bakar yang biasanya sudah ditandatangani setahun sebelumnya, sehingga kenaikan harga tak bisa dihindari.

Dampak Berantai pada Kualitas Pendidikan

Dana tambahan untuk BBM berarti dana lain harus dikorbankan. Beberapa distrik sekolah melaporkan terpaksa menunda pembelian buku teks baru, peralatan laboratorium, hingga pemeliharaan gedung. Di daerah dengan anggaran ketat, pemangkasan bahkan menyentuh program ekstrakurikuler dan gaji staf sementara.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada sektor transportasi atau logistik, tetapi juga merembet ke layanan publik esensial seperti pendidikan. Tanpa intervensi dari pemerintah federal atau negara bagian, beban ini kemungkinan akan terus membebani anggaran sekolah hingga harga BBM kembali stabil.

Reporter: Mahfud Ridwan
Sumber: jalopnik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top